Mengenal Sosok Pahlawan di Uang kertas Rp.1.000,- (2016)

· tjut meutia, Uncategorized
Authors

Tjut Meutia

cut_nyak_meutia

Tjoet Nyak Meutia adalah pahlawan nasional Indonesia dari daerah Aceh. Ia dimakamkan di Alue Kurieng, Aceh. Ia menjadi pahlawan nasional Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 107/1964 pada tahun 1964. Wikipedia

 

Nama Lengkap  : Tjut Nyak Meutia
Alias                      : Cut Nyak Meutia
Profesi                  : Pahlawan Nasional
Agama                  : Islam
Tempat Lahir     : Keureutoe, Pirak, Aceh Utara
Tanggal Lahir     : Selasa, 0 -1 1870
Nama Ayah          : Teuku Ben Daud
Nama Ibu             : Cut Jah putri dari Ben Seuleumak/Cut Mulieng
Warga Negara     : Indonesia
Suami                    : Teuku Muhammad/Teuku Tjik Tunong Pang Nagroe

uang-1000

Biografi Singkat Tjut Nyak Meutia

Sekilas

Tjoet Njak Meutia merupakan salah satu pejuang wanita dari Aceh yang telah diakui sebagai pahlawan nasional Indonesia. Sama halnya dengan para pejuang dari Tanah Rencong lainnya seperti Tjoet Njak Dhien, Teuku Umar, Teuku Cik Di Tiro, dan tokoh pejuang Aceh lainnya, Tjoet Njak Meutia dikenal sebagai sosok pemberani dan memiliki semangat juang yang tinggi serta tekad kuat untuk mengenyahkan para penjajah.

 

Tjoet Njak Meutia bertempur melawan Belanda bersama suaminya Teuku Muhammad atau lebih dikenal sebagai Teuku Tjik Tunong. Mereka bersama-sama melalui perjuangan yang panjang, namun pada akhirnya Teuku Tjik Tunong ditangkap oleh pihak Belanda pada bulan Maret tahun 1905. Teuku Tjik Tunong kemudian dijatuhi hukuman mati oleh Belanda di tepi pantai Lhokseumawe. Sebelum meninggal, ia berpesan pada sahabatnya Pang Nagroe agar mau menikahi istrinya dan merawat anaknya sepeninggal dirinya kelak.

Sesuai pesan mendiang suaminya, Tjoet Njak Meutia pun menikah dengan Pang Nagroe lalu bergabung bersama pasukan pimpinan Teuku Muda Gantoe. Dalam suatu pertempuran melawan Korps Marechausée di Paya Cicem, Pang Nagroe tewas dalam peperangan pada tanggal 26 September 1910 sedangkan Tjoet Njak Meutia berhasil selamat. Ia bersama para wanita lainnya yang masih selamat kemudian melarikan diri ke dalam hutan.

Setelah kematian Pang Nagroe, Tjoet Njak Meutia masih terus melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama sepasukan kecil pengikutnya. Mereka berusaha menyerang dan merampas pos-pos kolonial sepanjang perjalanan mereka ke Gayo melewati hutan belantara. Namun, pada pertempuran di Alue Kurieng tanggal 24 Oktober 1910 Tjoet Njak Meutia akhirnya gugur akibat tembakan peluru tentara Belanda. Atas jasa-jasanya, pemerintah menganugerahi gelar Pahlawan Nasional pada Tjoet Njak Meutia di tahun 1964.

Latar Belakang Keluarga

Cut Meutia adalah putri dari ayah yang bernamaTeuku Ben Daud Pirak dan ibu Cut Jah. Cut meutia adalah putri satu-satunya dari empat saudara laki-laki yang lainnya yaitu:Teuku Cut Beurahim disusul kemudian Teuku Muhammadsyah, Teuku Cut Hasan dan Teuku Muhammad Ali. Ayahnya adalah seorang Uleebalalang di desa Pirak yang berada dalam daerah keuleebalangan Keureutoe.

Cut meutia lahir di daerah Uleebalang Pirak, daerah yang berdiri sendiri karena daerah ini mempunyai pemerintahan dan kehakiman tersendiri sehingga dapat memutuskan perkara-perkara dalam tingkat yang rendah. Saat daerah Uleebalang Pirak di bawah kepemimpinan Teuku Ben Daud (ayah Cut Meutia) suasana penuh dengan ketenangan dan kedamaian. Sebagai seorang yang bijaksana perhatian Teuku Ben Daud selalu tertumpah pada rakyatnya karena selain sebagai Uleebalang dia juga dikenal sebagai seorang ulama yang sampai akhir hayatnya tidak mau tunduk dan patuh pada Belanda, tidaklah mengherankan jika sifat kesatria itu terbina dalam diri Cut Meutia.

Masa Muda

Pada umurnya yang menanjak dewasa parasnya yang cantik semakin tampak dan sesuai benar dengan namanya, Meutia yang berarti mutiara. Sesungguhnya ia sebutir mutiara di antara kaum wanita. Meutia tidak hanya berwajah cantik, melainkan juga seorang tokoh pemberani dan agung

Selain memiliki nama yang indah (Meutia) tapi Cut Meutia juga berparas cantik, serta bentuk tubuh yang indah menyertainya. Cut Meutia bukan saja amat cantik, tetapi ia juga memiliki tubuh yang cantik dan menggairahkan. Dengan mengenakan pakaian adatnya yang indah-indah menurut kebiasaan wanita di Aceh dengan silueue (celana) sutera bewarna hitam dan baju dikancing perhiasan-perhiasan emas di dadanya serta tertutup ketat, dengan rambutnya yang hitam pekat dihiasi ulee cemara emas (sejenis perhiasan rambut) dengan gelang di kakinya yang melingkar pergelangan lunglai, wanita itu benar-benar seorang bidadari.

cut_nyak_meutia

Cut Nyak Meutia adalah putri dari Teuku Ben Daud, uleebalang Pirak yang masuk dalam wilayah Keureutoe. Ibu Cut Nyak Meutia bernama Cut Jah putri dari Ben Seuleumak. Ibu Cut Nyak Meutia juga dipanggil Cut Mulieng karena berasal dari Gampong Mulieng. Dari kedua orang tuanya itu, Cut Nyak Meutia mempunyai empat orang saudara laki-laki, yaitu Teuku Cut Brahim, Teuku Cut Hasan, Teuku Cut Muhammad Syah dan Teuku Cut Muhammad Ali.

Masa kecil Cut Nyak Meutia hidup dalam didikan agama yang diajarkan oleh para ulama yang didatangkan oleh ayahnya sebagai tenaga pengajar, sebagaimana lazimnya dilakukan oleh keluarga uleebalang di Aceh. Hal itu membuat Cut Nyak Meutia menjadi pribadi yang taat dan teguh memegang prinsip. Ia rela berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan dan nyawanya untuk membela agama dan bangsanya.

Untuk  melawan Belanda, rakyat Keuretoe dan Pirak dipersiapkan melalui pendidikam di dayah-dayah. Di Keuereutoe saat itu terdapat sebuah dayah yang sangat terkenal yakni Dayah Teungku Beuringen.

Ayah Cut Nyak Meutia, Teuku Ben Daud terus menggalakkan peperangan untuk melawan Belanda. Ia merupakan pengikut setia Sulthan Aceh, Muhammad Daud Syah, yang saat itu sudah memindahkan pusat pemerintahan dan pertahanan ke Keumala, Pidie. Bantuan yang diberikan Teuku Ben Daud kepada sulthan semakin besar ketika sebagian Aceh Utara sudah dikuasai Belanda. Ia mengkoordinasi rakyatnya untuk mengumpulkan perbekalan serta membentuk angkatan perang.

Teuku Ben Daud yang dibantu oleh anak-anaknya, para ulama dan pengikutnya, tetap menolak untuk bekerja sama dengan Belanda. Ia tidak bersedia menandatangani Korte Verklaring  yang ditawarkn Belanda meskipun beberapa uleebalang yang ada disekitarnya sudah melakukannya. Maka perang pun berlanjut dan Belanda akhirnya bisa menuasai darah kekuasaan Teuku Ben Daud.

Meski daerah kekuasaannya telah dikuasai Belanda, Teuku Ben Daud terus melakukan perlawanan. Ia mengundurkan diri ke daerah hulu Krueng Jambo Aye, dari sana ia terus mengkoordinir pasukannya untuk menyerang Belanda, hingga ia syahid di sana. Sejak tahun 1905, daerah itu pula yang digunakan Cut Nyak Meutia sebagai pusat pertahanan.

Dipinang

Sebagai gadis dari keturunan uleebalang, yang cantik dan taat beragaman, Cut Nyak Meutia menarik perhatian banyak lelaki. Banyak pinangan yang datang, tapi Teuku Ben Daud tidak mengambil keputusan sendiri, hal itu selalu ditanyakan kepada Cut Nyak Meutia.

Dari sekian banyak pinangan yang datang, hanya pinangan dari Cut Nyak Asia yang diterima. Cut Nak Asia waktu itu ingin menikahkan puteranya, Teuku Syamsarif dengan Cut Nyak Meutia. Begitu menerima lamaran itu, Teuku Ben daud langsung melakukan musyawarah keluarga. Hasilnya diputuskan kesepkatan untuk menerima pinangan tersebut.

Perkawinan Cut Nyak Meutia dengan Teuku Syamsyarif terjadi pada tahun 1890. Setelah menikah, Cut Nyak Meutia menetap di Keureutoe bersama suaminya. Di Keureutoe Cut Nyak Meutia memulai hidup baru dengan wilayah kekuasaan yang melebihi daerah keuleebalangan Pirak. Sejak menikah dengan Teuku Syamsyarif, nama Cut Meutia mendapat tambahan gelar Nyak, sehingga menjadi Cut Nyak Meutia.

Masa awal kehidupan rumah tangganya dengan Teuku Syamsyarif di Keureutoe dilalui dengan biasa-biasa saja. Cut Nyak Meutia menjalankan kehidupannya sebagai orang yang taat beragama, yang tidak mengharapkan kemewahan. Ia tetap memendam permusuhan terhadap Belanda yang mulai menguasai sebagian di daerah Aceh Utara. Kepribadian Cut Nyak Meutia yang seperti itu tidak dapat diubah oleh siapapun, bahkan oleh suaminya sendiri.

Sikapnya yang menentang Belanda sangat bertolak belakang dengan sikap suaminya yang senang pada kedudukan dan kemewahan. Malah untuk memenuhi semua itu ia bersedia bekerja sama dengan Belanda, sehingga ia mendapat kehormatan dan kedudukan dengan berbagai fasilitas dari Belanda. Hal inilah yang membuat Cut Nyak Meutia tidak dapat mempertahankan kehidupan rumah tangganya.

Cut Nyak Meutia menunjukkan sikap tidak senangnya ketika semakin hari suaminya semakin dekat dengan Belanda. Ia berusaha merubah sikap suaminya itu untuk tidak tunduk kepada Belanda, tapi gagal. Karena kedekatan Teuku Syamsyarif dengan Belanda, kemudian Teuku Syamsarif  mendapatkan anugrah dari Van Huestz sebagai uleebalang Keureutoe menggantikan  ibunya Cut Nyak Asiah.

Mengetahui hal, Cut Nyak Meutia memilih berpisah dengan suaminya dan mengembara untuk berjuang melawan penjajahan Belanda. Sebagai buti ia rela berkorban apa saja baik harta benda, kedudukan dan nyawanya untuk membela agama dan bangsanya. Ia dengan suka rela meninggalkan kesenangan dan kemewahan hidupnya sebagai seorang istri uleebalang, begitu mengetahui suaminya menjalin kerja sama dengan Belanda. Setelah suaminya bersedia menandatangani korte verklaring yang diajukan Belanda,

Pengangkatan Teuku Syamsarif sebagai uleebalang Keureutoe sangat melukai hati Cut Nyak Meutia. Padahal jauh sebelumnya, Sultah Aceh Muhammad Daud Syah telah mengangkat Teuku Cut Muhammad, adiknya Teuku Syamsyarif sebagai uleebalang melalui sarakata  sultan lengkap dengan stempel kerajaan.

Sulthan mengangkat Teuku Cut Muhammad sebagai uleebalang, karena ia merupakan figur yang sangat berpengaruh di kalangan rakyat. Upaya Belanda mengangkat Teuku Syamsyarif sebagai uleebalang dinilai sebagai bagian dari politik untuk memecah belah rakyat Keureutoe. Kedekatan Teuku Syamsyarif dengan Belanda juga bertujuan untuk merebut kekuasaan adiknya sebagai uleebalang dengan banuan Belanda.

Karena itu di Keureutoe waktu itu terdapat dua uleebalang, yang satu Teuku Cut Muhammad yang digelari Tuuku Chik Tunong karena berkedudukan di Tunong (utara), satu lagi Teuku Syamsyarif yang digelari Teuku Chik di Baroh karena wilayah kekuasaannya ada diBaroh (utara), yang satu diangkat oleh sulthan satunya lagi oleh Belanda.

Teuku Cut Muhammad uleebalang yang diangkat oleh sulthan merupakan tokoh yang kuat kepribadiannya, yang berperang bersama rakyat melawan Belanda.  Ia mempunyai pengaruh yang luas sampai ke luar wilayah kekuasaannya. Sebaliknya Teuku Syamsyarif yang diangkat oleh Belanda merupakan tokoh yang lamban yang tidak didengar perintahnya oleh rakyat Keuretoe.

Dalam keadaan seperti itu, Cut Nyak Meutia berontak pada suaminya, ia teringat pada ayah dan keluarganya yang giat berjuang melawan Belanda. Ia sama sekali tidak senang dengan sikap suaminya yang bersedia bekerja sama dengan Belanda. Perubahan sikap Cut Nyak Meutia itu dirasakan oleh suaminya, Tetapi Teuku Syamsyarif tidak mengetahui penyebabnya.

Suatu malam setelah shalat magrib, Teuku Syamsyarif bertanya pada Cut Nyak Meutia tentang perubahan sikapnya tersebut. Terhadap pertanyaan itu Cut Nyak Meutia menjawab bahwa secara tidak langsung suaminya itu sudah mengetahuinya. Tapi Teuku Syamsyarif mengatakan tidak mengetahuinya, hingga ia kemudian berkata bahwa bukankah setiap wanita menginginkan kedudukan yang tinggi dengan kemewahan hidup. Terhadap pernyataan suaminya itu, Cut Nyak Meutia menjawab bahwa suaminya itu tidak memiliki derajat tinggi tapi ditinggikan oleh Belanda. Ia meminta kepada suamninya itu agar diceraikan dan dikembalikan kepada ayahnya di Pirak.

Mendengar permintaan itu, Teuku Syamsyarif terkejut. Ia sama sekali tidak menduga Cut Nyak Meutia akan meminta seperti itu. Ia berusaha membujuk Cut Nyak Meutia agar tidak meminta cerai. Mereka bedua kemudian melaksnakan shalat isya berjamaah yang diimami oleh Teuku Syamsyarif, seolah-olah tidak terjadi apa-apa antara keduanya.

Jauh sebelum permintaan cerai itu disampaikan oleh Cut Nyak Meutia, ia sudah berulang kali menyampaikan kepada suaminya bahwa tempatnya bukan di Keureutoe, bukan dalam genggaman Belanda, tapi di tanah merdeka. Ia ingin bergabung dengan ayah dan  saudara-saudaranya yang masih berjuang melawan Belanda.

Wanita semacam ini bukanlah pasangan yang tepat untuk Teuku Bentara (Syamsyarif) yang lamban itu, tidak pula cocok sebagai pasangan untuk mengabdi pada kompeni. Dia seorang putri bangsawan, hati dan jiwanya tertambat kepada kaum yang pantang menyerah, kaum yang berada di daerah pegunungan, yaitu para pejuang yang memilih jalan Allah. Di sanalah seharusnya cut Nyak Meutia berada dan terbebas dari kaphe (Belanda).

Cut Nyak Meutia kemudian meninggalkan Keureuto kembali ke Pirak ke tempat ayahnya, Teuku Syamsyarif tidak pernah menjenguknya, dan bahkan tidak pernah mengirim nafkah. Ia pernah meminta kepad ayah Cut Nyak Meutia, Teuku Ben Daud agar Cut Nyak Meutia diantar kembali ke Keureutoe, ayah Cut Nyak Meutia tidak menolaknya, tapi ia meminta agar Teuku Syamsyarif menjemputnya sendiri kalau masih merasa membutuhkan istrinya. Hal itu tidak dilakukan Teuku Syamsyarif karena antara dirinya dan Cut Nyak Meutia sudah sangat jauh berbeda prinsip.

Karena tidak dijemput dan menafkahi istrinya sampai beberapa lama, maka Teuku Syamsyarif dinyatakan dipasah (diceraikan) dari istrinya. Setelah bercerai, Cut Nyak Meutia terbebas dari penderitaan batin. Ia kemudian menyatakan keinginannya pada ayahnya untuk ikut berperang melawan Belanda. Tapi keinginan itu tidak dikabulkan oleh ayahnya karena Cut Nyak Meutia baru menjadi janda.

Cut meutia kemudian menikah dengan adik Teuku Syamsarif sendiri yaitu Teuku Chik Muhammad atau yang lebih dikenal dengan nama Teuku Chik Tunong. Setelah itu ia dan suaminya berhijrah ke gunung untuk melawan Belanda.

Perjuangan dengan Teuku Chik Tunong

Tahun 1901 adalah awal pergerakan, dengan basis perjuangan dari daerah Pasai atau Krueng Pasai (Aceh Utara) di bawah komando perang Teuku Chik Tunong. Mereka memakai taktik gerilya dan spionase dengan menggunakan prajurit untuk memata-matai gerak-gerik pasukan lawan terutama rencana-rencana patroli dan pencegatan. Taktik spionase dilakukan oleh penduduk kampung yang dengan keluguannya selalu mendapatkan informasi berharga dan tepat sehingga daerah lokasi patroli yang akan dilalui pasukan Belanda dapat segera diketahui.

Terdapat banyak perlawanan yang dilakuakn oleh Chik Tunong beserta cut meutia dari Bulan Juni 1902, Bulan Agustus November 1902 perlawanan yang sengit banyak merugikan pasukan belanda.

Selanjutnya tanggal 9 Januari 1903, Sultan bersama pengikutnya seperti Panglima Polem Muhammad Daud, Teuku Raja Keumala dan pemuka kerajaan lainnnya telah menghentikan perlawanan dan menyatakan turun dari usaha bergerilya melakukan penyerangan pasukan Belanda. Atas dasar itu, Cut Nyak Meutia bersama suami pun turun gunung pada tanggal 5 Oktober 1903. Atas persetujuan komandan datasemen Belanda di Lhokseumawe, HNA Swart, Teuku Tunong dan Cut Meutia dibenarkan menetap di Keureutoe tepatnya di Jrat Manyang dan akhirnya pindah ke Teping Gajah daerah Panton Labu.

Akhir perjuangan Teuku Chik Muhammad dan Cut Meutia adalah sebagai akibat dari peristiwa di Meurandeh Paya sebelah timur kota Lhoksukon pada tanggal 26 Januari 1905. Peristiwa ini diawali dengan terbunuhnya pasukan Belanda yang sedang berpatroli dan berteduh di Meunasah Meurandeh Paya. Pembunuhan atas pasukan Belanda ini merupakan pukulan yang sangat berat bagi Belanda. Di dalam penyelidikan Belanda, didapat bahwa Teuku Chik Tunong terlibat dalam pembunuhan itu. Maka dari itu, Teuku ditangkap dan dihukum gantung. Namun pada akhirnya berubah menjadi hukum tembak mati.

Pelaksanaan hukuman mati dilaksanakan pada bulan Maret 1905 di tepi pantai lhoksuemawe dan dimakamkan di Masjid Mon Geudong. Sebelum dihukum mati, Teuku Tunong mewasiatkan agar Pang Nanggroe yang merupakan sahabat perjuangannya untuk menikahi Cut Nyak Meutia serta menjaga anak-anaknya.

Perjuangan dengan Pang Nanggroe

Sesuai amanah dari almarhum suaminya, Cut Meutia menerima lamaran Pang Nanggroe. Dan dengan beliau, Cut Meutia melanjutkan perjuangan melawan Belanda dengan memindahkan markas basis perjuangan ke Buket Bruek Ja. Pang Nanggroe mengatur siasat perlawanan melawan patroli marsose Belanda bersama dengan Teuku Muda Gantoe. Penyerangan Cut Meutia dan Pang Nanggroe dimulai dari hulu Kreueng Jambo Ayee, sebuah tempat pertahanan yang sangat strategis karena daerah tersebut merupakan daerah hutan liar yang sangat banyak tempat persembunyian. Pasukan muslimin melakukan penyerangan ke bivak-bivak Belanda dimana banyak pejuang muslim yang ditahan.

Pada tanggal 6 Mei 1907, pasukan Pang Nanggroe melakukan penyerbuan secara gerak cepat terhadap bivak yang mengawal para pekerja kereta api. Dari hasil beberapa orang serdadu Belanda tewas dan luka-luka. Bersama itu pula dapat direbut 10 pucuk senapan dan 750 butir peluru serta amunisi.

Pada tanggal 15 Juni 1907, pasukan Pang Nanggroe menggempur kembali sebuah bivak di Keude Bawang (Idi), pasukan Belanda mengalami kekalahan dengan tewasnya seorang anggota pasukan dan 8 orang luka-luka.

Taktik penyerangan Cut Meutia yang lain pula adalah jebakan yang dirancang dengan penyebaran kabar bahwa adanya acara kenduri di sebuah rumah dengan mengundang pasukan Belanda. Rumah tersebut telah diberikan jebakan berupa makanan yang lezat, padahal pondasi rumah itu telah diakali dengan potongan bambu sehingga mudah diruntuhkan. Pada saat pasukan Belanda berada di dalam rumah tersebut, rumah diruntuhkan dan pasukan Cut Meutia menyerang secara membabibuta.

Penyerangan pasukan Cut Meutia juga terjadi pada rel kereta api sebagai usaha untuk memutuskan jalur distribusi logistik dan jalur kereta apinya. Di pertengahan tahun 1909 sampai Agustus 1910 pihak Belanda atas petunjuk orang kampung yang dijadikan tawanan telah mengetahui pusat pertahanan pasukan Pang Nanggroe dan Cut Nyak Meutia. Beberapa penyerangan dilakukan, namun pasukan Cut Meutia yang selalu berpindah tempat membuat Belanda susah untuk menangkapnya. Beberapa penyerangan dilakukan di daerah Jambo aye, Peutoe, Bukit Hague, Paya Surien dan Matang Raya. Namun pada tanggal 25 September 1910, saat terjadi penyerangan di daerah Paya Cicem, Pang Nanggroe terkena tembakan Belanda sehingga meninggal dunia setelah mewasiatkan kepada anaknya Teuku Raja Sabi untuk mengambil rencong dan pengikat kepala ayahnya dan menjaga ibundanya Cut Nyak Meutia. Makam Pang Nanggroe terletak di samping Mesjid Lhoksukon.

Cut Meutia Memimpin Pasukan

Kepemimpinan pasukan diambil alih oleh Cut Meutia setelah Pang Nanggroe syahid, dan basis pertahanan dipindahkan ke daerah Gayo dan Alas bersama pasukan yang dipimpin oleh Teuku Seupot Mata. Pada tanggal 22 Oktober 1910, pasukan Belanda mengejar pasukan Cut Meutia yang diperkirakan berada di daerah Lhokreuhat. Esoknya pengejaran dilakukan kembali ke daerah Krueng Putoe menuju Bukit Paya sehingga membuat pasukan Cut Meutia semakin terjepit dan selalu berpindah antar gunung dan hutan belantaraa yang sangat banyak.

Dalam pertempuran tanggal 25 Oktober di Krueng Putoe, pasukan Cut Meutia menghadapi serangan Belanda. Di sinilah Cut Meutia syahid bersama pasukan muslim yang lain seperti Teuku Chik Paya Bakong, Teungku Seupot Mata dan Teuku Mat Saleh. Menjelang gugurnya, Cut Meutia mewasiatkan kepada Teuku Syech Buwah untuk tidak lagi menghadapi serangan belanda, taktik selanjutnya adalah mundur sejauh mungkin dan menyusun serangan kembali, karena posisi mereka sudah sangat terjepit kali ini. Cut Meutia juga menitipkan anaknya untuk dicari dan dijaga.

Cut Meutia wafat di Alue Kurieng, Aceh, 24 Oktober 1910, dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 2 Mei 1964 berdasarkan Keppres No. 106 Tahun 1964.

Referesi

  • wikipedia
  • biografi tokoh ternama (blogspot.co.id)
  • Tulisan Meidita Kusuma Wardhani
  • acehsky (blogspot.co.id)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: