Kuatkan Aku, Ibu

· Uncategorized
Authors

Ku parkirkan kendaraanku tepat di depan rumahku. Aku berjalan menuju rumahku. Ku buka pintu syurga. Ya, seperti kata pepatah Islam, ‘baiti jannati’ rumahku laksana syurga bagiku. Walupun isi dan perabotan rumahku tak seperti banyangan orang-orang tentang syurga. Namun ku berusaha mengindahkannya, agar rumah selalu menjadi syurga bagiku, meskipun tidak bagi orang lain.

Ku dapati ibuku sedang duduk di kursi sedang membaca Al-Qur’an. Tangannya asyik bercengkrama dengan Al-Qur’an kecil yang dipegangnya serta mulutnya mengeluarkan suara-suara lirih. Sepertinya lantunan-lantunan ayat demi ayat Al-Qur’an itu telah menghiburnya dan menemani sorenya.

Ibuku melemparkan senyumannya kepadaku. Bukan ku tak menyambut senyuman yang ia lemparkan kepadaku. Hanya saja, rasa letih, penat, gelisah, galau dan meran telah memporak-porandakan hati dan pikiranku. Segalanya berkecamuk menjadi satu menari-nari di otakku dan merusak hariku.

“Assalamu’alaikum.” ucapku.

“Wa’alaikumsalam. Sepertinya kau terlihat letih, wajahmu muram, kelihatan kau tampak kusam serta rambut dan pakaianmu berantakan.”

Aku menghampiri ibuku dan berlutut disampingya, tanganku memeluk kakinya. Kusandarkan kepalaku tepat di kedua lututnya. Ibuku membelai rambutku. Mengusapnya dengan lembut. Tanganya yang sudah tidak mulus lagi, bagiku tetap saja terasa lembut membelai kepalaku. Seperti anak kecil saja, yang sedang merengek meminta dibelikan sebuah permen lalu menangis tersedu-sedu agar permintaan permennya segera dikabulkan. Walaupun aku bukan anak kecil lagi yang sedang meminta permen, namun ibuku tetap saja memperlakukanku layaknya bocah kecilnya nan manja.

Ingin rasanya aku menagis didepan ibuku yang sudah tidak muda lagi ini. Mengadu apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini. Namun aku bigung harus memulai darimana. Akupun tak ingin membuat ibu bersedih karenaku. Sesuatu telah yang menimpa kepadaku, sesuatu yang telah menghancurkan mimpiku.

***

Masih kental tersimpan dimemori otakku. Saat dimana pertengkaran hebat terjadi diantara kami. Pertengkaran yang menyebabkan dua orang insan terluka hatinya. Padahal awalnya kami saling meyukai dan menyayangi. Bahkan bertekat bersama-sama menjalani hubungan yang serius di tahun ini. Dia pun sudah yakin kepadaku, begitupun aku yang sudah yakin kepadanya. Namun ada saja hal yang membuat kami harus terpisah. Hubungan yang begitu baik harus hancur oleh keegoisan diri masing-masing. Keegoisan yang telah membuat hubungan itu harus berakhir cukup sampai disini.

Semual berawal ketika aku bertemu dengan wanita yang ingin aku persunting menjadi itriku. Tepat di sebuah taman tempat biasa kami bertemu. Gadis yang baik hati, lembut, terlihat sholeha, menurutku sih. Dengan kerudung putihnya yang menggerai menghiasi kepalanya. Sepertinya dia sejak tadi menungguku. Seperti ada sesuatu yang penting yang ingin ia bicarakan. Sehinnga ia mau menungguku disini.

Sebut saja namanya ‘Mawar’ karna aku tak ingin membahas namanya disini. Ya, Mawar telah memberikan pernyataannya yang mengejutkanku.

“Sebaiknya dipikirkan lagi hubungan kita ini” mawar memulai percakapan kami.

“Maksud kamu apa ya? Aku nggak ngerti.” tanyaku

“Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita ini”

“Emang kenapa? Emangnya salah aku apa?”

“Kamu ga nyadar juga ya?”

“Maksud kamu apa? Aku nggak ngerti.” Lagi-lagi aku semakin tidak mengerti apa yang Mawar ucapkan.

“Kamu tuh ga pernah beri aku kepastian. Kamu juga ga pernah kasih kabar, ga pernah nelpon ga pernah SMS.” Mawar berharap aku segera mengajaknya menikah. Tapi aku minta dia bersabar, entah kesabarannya yang habis atau apa sehinnga ia biacara ingin putus saja.

“Kamu ‘kan tau kalo aku tuh sibuk. Aku kerja, aku juga kuliah.”

“Oh, jadi itu alasan kamu sehingga kamu ga pernah kasih kabar ke aku?!”

“Kemarin ‘kan aku juga sudah bilang Buk, kalo aku lagi banyak masalah.”. Ya, ‘Ibuk’ adalah sapaan akrab ku kepadanya dan ‘Bapak’ adalah sapaan akrab dia terhadapku.

“Jadi, kamu mementingkan masalah kamu dibandingkan masalah kita?”

“Aku tuh mestinya harus bagaimana sih Buk, sepertinya aku salah terus dimata kamu.”

“koq, kamu malah jadi nyalahin aku gini. Sudahlah sepertinya kita sudah tidak ada kecocokan lagi.”

“Tapi?!”

“Lebih baik kita jalani hidup kita masing-masing. Mungkin kita tidak jodoh.” Pungkasnya. Lalu ia pergi meninggalkan ku dan berlalu begitu saja.

Pertemuan yang ku anggap sebagai pertemuan terakhir kami.

***

Aku berdiam diri dikamarku. Aku mengambil secarik kertas untuk aku tuliskan isi hati ini kepadanya, yang kemudian akan aku ketik lagi di handphone ku dan ku kirim sebagai SMS. Entah berapa banyak kertas coretan yang aku buat, dan entah berapa banyak remukan kertas yang memenuhi hampir disetiap ruang kamarku. Aku bingung memulai kalimat darimana. Ku ingat-ingat lagi kesalahanku. Bukannya sok naif, namun aku masih bingung dimana letak kesalahanku. Ya sudahlah. Rasanya tak etis kalau lewat pesan singkat di handphone.

Kemudian aku memutuskan meneleponnya saja. Untuk mempertanyakan kembali cintaku, mempertanyakan kembali keputusannya.

“Assalamu’alaikum,Buk.”

“Wa’alaikumsalam” terdengar suaranya dari sebrang sana.

“Oke Buk! Aku sadari kesalahanku. Aku terlalu sibuk dengan urusanku, dengan segala masalahku, sehingga aku melupakan kamu.” Aku mencoba memberi penjelasan kepadanya.

“Sudahlah lebih baik kamu cari orang lain saja.”

“Kenapa kamu bicara seperti itu. Aku berjanji aku akan berubah, aku akan memperhtikan kamu. Aku akan memperbaiki semua.”

“Tapi itu sudah terlambat. Aku sudah tunangan. Apa kamu mau dia bicara untuk meastikannya.”

“Halo?!” terdengar suara lelaki di sebrang sana. Suara yang tak pernah aku kenal.

“Halo, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam.” Jawab lelaki disebrang sana.

“Apa benar kamu tunagan Mawar?” tanyaku memastikan.

“Sudahlah, kamu sudah cukup tau kan.” Ternyata malah Mawar yang menjawab.

“Kamu dijodohin ya.”

“Sudahlah. Lebih baik jangan pernah hubungin aku lagi.” Mawar mengakhiri teleponnya.

Tut-tut-tut!!!

Aku terdiam terpaku di sudut kamarku. Sementara handphone-ku masih melekat ditelingaku. Aku baru saja mau memulai kata-kata, sedangkan dia sudah mengakhiri semuanya.

***

Banyak sekali yang terjadi dalam kehidupanku. Masalah datang silih berganti dengan bertubi-tubi. Seperti ada jatuhan batu diatas gunung tinggi menjulang, sedangkan aku ada dilerengnya.

Uang kantor menghilang, entah siapa atau jin mana yang mengambilnya. Setiap karayawan yang ditanyai tidak ada yang tahu. Sekejab saja raib seperti di telan bumi. Apa yang harus aku lakukan kalau begini. Bagaimana aku membayar gaji karyawan kalau begini. Terus, modal untuk membeli bahan baku gimana.

Satu-satunya langkah yang bisa aku tempuh saat ini adalah merumahkan semua karyawanku. Ditambahlagi banyaknya pesanan yang harus di berikan kepada setiap pelanggan. Sedangkan persediaan mulai menipis. Keuangan kantor yang tersisa pun tak dapat memenuhi jumlah permintaan pelanggan yang cukup banyak. Alhasil hanya beberapa pelanggan saja yang dapat aku penuhi, dan sisanya aku harus kehilangan pelanggan. Relasi bisnis hanya tinggal hitungan jari, sementara karyawan harus dipulangkan semuanya. Aku harus kembali ke titik nol, sendiri. Seperti saat awal merintis usahaku.

Kuliahkupun harus terhenti sementara. Entah apa yang harus aku jawab jika teman-teman kuliah mempertanyakan tentang kuliahku.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Peribahasa itu biasanya aku temui dalam pelajaran Bahasa Indonesia, kini malah menjadi pelajaran nyata dalam kehidupanku. Istilah orang minang mengatakan ‘jatuah tapai’. Ya, seperti tapai yang jatuh, bentuknya hancur tak keruan. Tapai atau lebih dikenal dengan tape, penganan dari singkong yang di asamkan. Bayangkan saja bagaimana tape kalau jatuh dari tangan, siapa yang mau memakannya lagi.

Itulah yang kualami. Usahaku terancam bangkrut, dan orang yang kuharapkan bersamaku untuk menguatkanku malah pergi meninggalkanku dan memilih orang lain sebagai penggantiku.

“Bu, aku baru putus dengan Mawar Bu.” Rasanya aku tak dapat memendam rasa kecewaku lagi. Ibuku yang sedari tadi membiarkan aku merebahkan kepalaku di kedua lututnya terus mengusap kepalaku. Ibuku orang yang selalu berharap yang terbaik untukku. Yang sudah menganggap Mawar adalah pendamping terbaikku. Kini dak lagi berharap apapun darinya. Semuanya pun sudah pupus.

Ibuku masih mengusap-usap kepalaku.

“Anakku…setiap diri yang hidup di dunia ini tiada lepas dari cobaan baik besar atau kecil. Terkadang cobaan-Nya begitu pedih dan amat melukai hati . Semua itu untuk mendidik kita agar bisa mengambil hikmah dari setiap peristiwa. Ketika kehilangan sesuatu memang wajar jika kita bersedih. Termasuk jika kita kehilangan seseorang yang kita cintai. Terkadang kita mencintai sesuatu yang sesungguhnya tidak baik untuk masa depan kita, atau membenci sesuatu yang sebetulnya bermanfaat bagi kita. Allah tidak akan mengambil sesuatu kecuali Dia mempersiapkan ganti yang lebih baik. Itu akan terjadi jika kita bersabar dan ridha dengan keputusan-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita. Jika keyakinan ini tertanam dalam diri tentu cobaan berat akan terasa ringan dan menjadikan cobaan itu sebagai jalan untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Allah. Semua nikmat atau musibah yang telah ditetapkan Allah pasti akan mengenai diri kita,walaupun seluruh umat manusia bersatu untuk menghindarkan diri dari apa yang sudah ditaqdirkan tetap semua itu akan terjadi. Kita tak punya pilihan lain kecuali menerima ketentuan-Nya dengan lapang dada.

Anakku….Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup yakinlah ada pintu kebahagiaan lain terbuka. Jangan menghabiskan waktu dengan mengharap cinta, kasih sayang dan perhatian dari seseorang yang sesungguhnya tidaklah untuk kita. Jangan tangisi seseorang yang telah meninggalkan kita demi mengejar cinta yang dia inginkan. Jangan terus-menerus bertahan pada suatu hubungan yang tak akan menjadi halal.

Sudahlah.. Lupakan walau itu tak mudah…Yakinlah suatu saat ada pintu hati lain yang ikhlas menerima segala cinta kita dan siap menjadikannya halal di mata Allah. Anakku… tatkala Allah belum menjawab do’a kita agar mengaruniai pasangan hidup, janganlah terus berkeluh kesah. Merana sengsara karena hidup dalam kesendirian, tak ada calon yang mengajukan tawaran, kekasih hati meninggalkan karena terpikat dengan yang lebih menawan atau calon yang ada pun tak segera menjadikan cinta menjadi halal melalui ikatan suci pernikahan.

Namun mulailah instropeksi diri, mulailah evaluasi diri sudah pantaskah kita menjadi istri? Sudah layakkah kita menjadi suami? Karena sesungguhnya jodoh akan diberikan jika kita sudah mampu memegang amanah. Pernikahan adalah amanah yang harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah, pasangan hidup, keluarga besar dan masyarakat. Nilailah diri barangkali saat ini kita belum bisa mandiri, perilaku kita masih begitu egois, melihat anak kecil yang rewel pun begitu terusik, dan ketergantungan kita terhadap orang tua begitu nampak. Maka, berpikirlah dan renungkan. Kalau mengurus diri sendiri saja belum bisa bagaimana akan mengurus pasangan? Untuk itu mulailah sibukkan diri. Benahilah diri agar menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab sehingga Allah pantas untuk menjodohkan kita dengan orang yang terbaik menurut-Nya…”

Aku terdiam dan befikir. Seharusnya mawar ada disini bersamaku. Seharusnya dia menguatkanku saat aku lemah dan terjatuh ini. Tapi dia malah pergi dengan lelaki lain. Tapi aku percaya Allah telah mempersiapkan yang jauh lebih baik dari Mawar.

Aku mengangkat kepalaku dari pangkuannya. Kulihat senyum yang menguatkaku. Senyum ibu seperti energi yang di alirkannya.

“Wajahmu kusam, lebih baik kamu mandi dan sholat ashar. Berdo’a lah kepada Rabb mu. Mintalah kepadanya apa yang kau inginkan. Dan pasti Dia akan memberi yang terbaik untukmu, dan untuk kita semua.”

***

Operator Genset — Part 1

Usaha gulung tikar. Kekasih pergi meninggalkanku demi orang lain. Kuliah tak lanjut. Hutang menumpuk membelit pinggang.

“Ya Allah, ujian ini begitu berat bagiku. Sesungguhnya hamba tak sanggup, ya Rabb. ujian ini begitu bertubi-tubi menimpa hamba.”

Aku merasa seperti terjatuh ke jurang dalam, terus masuk kedalam sumur mati yang berlumpur, serta dipenuhi dengan ular putih yang berbisa.

Namun aku tau ini semua pasti akan ada hikmahnya. Tapi sampai kapan. Entahlah. Aku belum tahu hikmah dibalik semua ini.

Berhari-hari aku menganggur. Hanya berdiam diri dirumah membuatku jemu akan hidup ini. Kadang terlintas dibenakku untuk bunuh diri saja.

Jika saja bunuh diri bukan suatu dosa yang tak terampuni, maka aku pasti sudah melakukannya.”

Terkadang pikiran buruk itu menghantuiku. Bunuh diri, adalah sebuah perbuatan dosa yang menentang takdir.

Sering kali aku menangis meratapi nasib yang menyedihkan ini. Tetapi semakin dipikir semakin terasa pecah kepala ini.

Kutatapi wajah ibu yang semakin menua. Pipinya mulai terlihat mengendur. kulitnya terlihat berkerut.

Bu, jadi apalah anakmu ini. Bagaimana cara aku membahagiakanmu.” batinku dalam hati.

Ibu, dialah satu-satunya orang yang membuatku tegar. Satu-satunya orang yang membuatku bertahan hingga kini.

Namun, Aku tak mungkin selamanya begini. Berdiam diri meratapi nasib. Sementara hutang harus tetap dibayar.

Bagaimana aku harus membayar hutangku setiap bulan jika aku tak bisa mendapatkan uang walau seribu rupiahpun.”

Sedangkan usahaku tak mampu lagi aku pertahankan, hingga hancur dan terpaksa bangkrut.

Berbekal sebuah koran yang aku beli, disana banyak sekali lowongan kerja pada kolom iklan baris. Tentunya sudah banyak pula lowongan yang aku buat dan aku kirimkan kepada perusahaan yang membuka lowongan.

Setelah berminggu-minggu, tak satupun perusahaan yang menelponku untuk menerimaku bekerja. Mungkin karena usiaku tak muda lagi. Dimana perusahaan lebih menyukai karyawan dengan range umur berkisar 19 s/d 25 tahun.

Setiap hari senin aku selalu membeli koran. Bukan untuk membaca tajuk berita hangat, ataupun membaca informasi yang terjadi dikotaku tiap harinya di koran pagi. Tapi aku hanya membaca lowongan kerja. Menulis surat lamaran sesudahnya, sehingga aku hapal menulis surat permohonan kerja tanpa melihat contoh. Terang saja, karena puluhan surat lamaran telah ku tulis.

Aku terpaku duduk di depan pintu. Sembari melototi handphone yang tak kunjung berbunyi.

Sebuah telepon dari perusahaan penyewa genset memanggilku untuk interview. Pada hari yang ditentukan, aku mengikuti tes interview pada perusahaan itu. Dengan modal nekat aku mengikuti tes wawancara, karena sama sekali tak mengerti sedikitpun tentang genset.

“Apa yang kamu ketahui tentang operator genset?” tanya calon bosku saat interview.

“Operator berarti orang yang mengoperasikan suatu alat, sedangkan genset atau generator set, adalah alat yang dapat mengasilkan daya listrik. Jadi operator genset adalah orang yang mengoperasikan alat atau mesin yang dapat menghasilkan daya listrik.” jawabku sebisanya. Jawabanku persis seperti menjawab pertanyaan dosen saat kuliah dulu. Dan tentunya itu bukan jawaban yang di inginkan calon bos ku.

Calon bosku memutar kedua bola matanya. “Ceritakan sedikit hal tentang kamu.”

Setelah menceritakan panjang lebar kepada calon bos, akhirnya aku mempromosikan tentangku yang mungkin menggugah hatinya.

“… Sebenarnya saya tak mengerti sedikitpun tentang mesin, namun jika berkenan diajarkan, saya mau belajar apapun tentang mesin dan perusahaan ini.”

Setelah beberapa hari setelah interview di perusahaan penyewa genset itu. Aku mendapat telepon dari perusahaan itu.

Dan Alhamdulilah aku boleh bekerja senin besok.

Genset? Apa itu?

Yang aku ketahui adalah, tugasku sebagai operator genset. Menjaga mesin genset agar tetap beroperasi. memberikan tenaga listrik tambahan untuk para penyewa genset.

Biasanya genset digunakan(disewa) untuk orang2 yang akan melakukan pesta yang membutuhkan daya listrik yang lebih besar. Atau disewa oleh para perusahaan kontraktor untuk daya listrik saat membangun gedung atau jalan.

***

Hari pertamaku kerja pada perusaan genset itu, aku berpakaian rapi. Baju kemeja lengan panjang, celana dasar dan sepatu kulit hitam.

Sesampainya disana. Aku diperkenalkan dengan Mas Agus, dia menjabat posisi sebagai mekanik. Artinya dia adalah atasanku. Dia juga mengajariku tentang mesin.

Namun yang membuatku melongo hebat adalah ketika aku melihat pakaian mas Agus. Pakaian Mas Agus sangat jauh berbanding terbalik denganku. Ia mengenakan kaus yang kucel. Kaus putihnya menguning. Sedangkan celananya robek-robek bagian lututnya. Dan sepatunya lebih mirip sepatu boot.

Sementara aku, persis karyawan kantoran. Berdandan rapi. “Tak selayaknya aku berpakaian seperti ini.” gumamku.

“Mas. Emangnya kita bekerja kotor-kotor ya?”

“Ya iya lah. Tiap hari kita berurusan dengan mesin dan oli. Memperbaiki mesin, mengganti oli dan banyak lah. Ya, begini kerja di bagian mesin.”

“Tapi gimana mas, aku sama sekali tak punya basic tentang mesin.”

“Tak apa. Yang penting kau mau berkerja, Kalau ada niat, pastilah semua pekerjaan akan terasa ringan.”

Benar juga. Aku mengangguk-ngangguk mengerti.

“Ayo kita berangkat?”

“Berangkat kemana mas?”

“Ya ke lokasi.”

“Lokasi?” tanyaku dalam hati.  Aku tak mau banyak bertanya. Nanti aku juga akan tahu apa yang mas Agus maksud dengan ‘lokasi’ itu.

Mas Agus mengidupkan motornya, dan memulai berjalan. Aku menghidupan motorku dan mengikutinya dari belakang.

Kami berdua melintasi jalan-jalan kota dikotaku. Mengikuti kemana Mas Agus. Meski tak tahu Mas Agus membawa ku kemana.

Sesampainya di tempat yang ia maksud. Ini yang dia sebut ‘lokasi’.  Ternyata lokasi proyek pembangunan hotel.  Didalam proyek tersebut, terparkir mesin genset dari perusahaan genset tempatku bekerja. Di samping mesin genset itu terdapat passenger lift.  Passenger lift membutuhkan daya listrik dari genset untuk turun-naik membawa orang atau barang.

Disana aku bertemu denga Budi, ia adalah operator lift.

Mas Agus menjelaskan kepadaku tentang mesin genset itu. Bagaimana cara menghidupkannya, bagaimana cara mematikannya. Ya, itu saja. Sehingga yang aku tahu hanya apa yang mas Agus ajarkan kepadaku.

Untungnya ada Budi. Sebagai operator passenger lift yang telah berkutit bertahun-tahun, Budi sangat mengetahui tentang mesin.

Dia tak bosan mengajariku yang ‘bego’ tentang mesin. Padahal usianya muda dibawahku. Namun ia tak pernah mengajariku seperti menggurui.

***

Pukul 12.00 siang.

Perutku mulai terasa perih, minta diisi. Aku berjalan menyelusuri lokasi proyek tersebut. Aku mencari pintu keluar. Sambil merogoh saku celanaku, aku memeriksa apa aku tadi membawa uang, untuk membeli nasi rames.

Aku terus berjalan, sampai tibanya aku disebuah pos security.

“Ayo makan. Makan.” sapa salah satu security menyapaku sangat akrab. Ia terlihat ramah menyapaku.

Security itu sedang menyuci tangan pada air kran. Sepertinya ia hendak memulai makan siangnya.

“Iya.” jawabku sembari melemparkan senyum.

“Kau operator genset kan.” tanya security itu menerka-nerka.

“Iya.” Aku mengangguk.

“Itu ambil satu box jatahmu.” Alhamdulillah, aku tak perlu keluar uang untuk makan siang.

“Iya, bang.” Aku mencari jatah makan siang yang dimaksud security itu

“Nama kau siapa?”

“Ali bang, kalo abang?”

“Sutrisno.”

Aku mendapati ada dua buah kotak makanan yang berada didalam pos satpam itu.

“Itu yang 2 box untuk operator genset dan operator lift.”

“Iya, Bang.” Aku mengambil salah satu box makan siangku. Melihat sekitar lokasi proyek, mencari pw untuk makan.

“Mengapa?” Security itu memergokiku seperti orang bingung.

“Bingung aja bang, mau makan dimana.”

“Disini saja, temani aku makan.”

Ternyata jam istirahat begini, seluruh pekerja disini disediakan makan siang catering. Telah dipersiapkan setiap orang satu box. Makanan dengan lauk seadanya. Sepertinya buatan catering rumahan. Tak apalah, yang penting ada, dan halal.

“Budi mana?” tanya Bang Sutris saat ia memulai menyantap makan siangnya.

“Ga tau, bang. Mungkin ke toilet.” Aku membuka box nasi catering, dengan membaca basmalah dan doa makan aku memulai menyantap makan siangku.

“Baru, ato sudah lama kerja di genset.”

“Baru bang.”

“Umur kau berapa?”

Aku menyeringai. “Hari gini nanya umur.” kataku lirih. Aku melanjutkan makanku.

“Lha, kenapa.”

“Pertanyaan yang berat untuk dijawab.”

“Umur abang 35. Apanya yang berat? Jawab aja, gitu aja koq repot.”

Karena ia telah memberitahukan umurnya, terpaksa aku beritahu berapa umurku.

“Aku umur 29 tahun, bang.”

“Lha, itu bisa jawab. Apanya yang berat.” Bang Sutrisno mengulangi pertanyaannya.

“Sudah punya anak berapa?” tanyanya lagi.

Aku menyeringai. “Kalo anak sih banyak, bang.”

Bang Sutrisno terkejut heran tak percaya. Di umurnya yang menginjak 35 tahun, dia sudah punya anak 2. Dimumurku yang segitu, setidaknya aku punya anak satu, kalo dua mungkin kembar.

“Anak apa dulu, bang. Kalo anak ayam, anak kucing, sama anak bebek, banyak.”

“Hadeeh. Orang tanya serius, kau malah bercanda. Ngapain abang tanya anak ayammu berapa? Apa itu penting? Ya anak kau lah.” Jawab bang Sutris dengan nada kesal.

Aku terkekeh.

Aku menelan makanan yang ada dimulut. “Jangankan anak, bang. Emaknya aja masih dicari.”

“Hah? Jadi kau belum menikah?” tanya bang Sutris dengan expresi terkejut.

“Biasa aja bang ekspresinya. Jadi tak enak makan nih, hehe.” Aku mencoba menyela bercanda.

“Harusnya seusia segitu kau sudah menikah. Abang aja menikah saat usia 27 tahun.”

“Itu dia bang, yang aku bilang pertanyaan yang berat di jawab. Awalnya aku tak mau menjawab, tapi abang memaksa. Karena aku udah menduga, ekspresimu pasti begitu.”

“Kenapa malu jujur. Kalau jodoh belum datang, bisa apa?” Kalimatnya seperti membelaku.

Aku meneguk segelas air mineral.

“Udah punya calon?”

“Udah sih, bang.”

“Koq pake ‘sih’.”

Aku menyeringai. “Ada sih calon, bang. Cuma…”

“Cuma apa?”

“Cuma masih ditangan Tuhan.”

“Abang siram juga kau pake kuah gulai ini.” kata bang Sutris mulai kesal, sambil memamerkan kuah gulai yang ditangannya. “Orang nanya serius dijawab bercanda.”

“Iya-iya bang, ada. Cuma…”

“Cuma apa lagi? Mau bercanda lagi?” tanya bang Sutris semakin kesal.

“Cuma jauh, bang.”

“Aaaah. Jauh. Selagi dikota ini. Masih bisa di datengin!” Kata bang sutris membantah kalimatku setelah mendengar kata ‘jauh’.

Bang Sutrisno baru saja menyelesaikan makan siangnya, kemudian mengambil buku Teka-teki silang, lalu berpikir sejenak mencari tahu jawaban dari TTS itu.

“Dia ada di kabupaten, bang.”

“Oh… dikabupaten.” Bang Sutrisno asyik mengisi TTS yang ada dihadapannya.  “Selagi masih dalam satu provinsi, masih deket koq. Tapi masih sering kontak-kontakkan, teleponan.”

“Masih bang, terkadang dia yang nelepon aku.”

“Masa dia yang nelpon. Kau yang seharusnya menelponya. Bukan dia.”

“Aku tak punya uang, bang. Buat beli pulsa.”

“Bujangan koq ga punya uang.”

“Panjang ceritanya bang.”

“Kalo panjang, diceritakan dari awal. Bagaimana kronologisnya.”

Aku menyeringai. “Terlalu panjang malah, bang. Kalo ceritaku diketik, 1½ spasi, dan dijadikan novel, mungkin ada ribuan halamannya, bang.” kataku mencoba bercanda. Aku terkekeh.

“Hadeeeh, bertele-tele.” Bang Sutisno menepuk buku TTS yang diatas meja. Lalu beranjak keluar dari pos satpam itu.

Mungkin dia pusing mengisi TTS, ditambah lagi mendengar jawabanku, yang membuat moodnya berubah.

Aku tersenyum geli melihat ekspresi wajah Bang Sutrisno yang sepertinya menahan kekesalan.

Bang Sutrisno keluar dari pos satpam itu, mengambil kursi, lalu duduk sambil mematik api, menyalakan rokoknya. Mungkin rokok dapat mengembalikan mood-nya.

“Hah, bujangan ga punya uang.” bang Sutris menghembus asap rokoknya. Bang Sutris duduk menhadap utara, menyampingiku.

“Itu dia masalahnya, bang. Terkadang aku merasa malu. Di telepon yang ditanyanya, bukan udah makan apa belum, tapi udah sholat belum?”

“Bagus donk, berarti dia termasuk calon istri yang baik, calon istri yang solehah.”

Aku menyeringai. “Iya sih bang. Mudah-mudahan.”

“Koq mudah-mudahan. Yang semangat donk. Biar dia tau, bahwa disini ada calon imam yang sedang berjuang untuk menjadikannya halal.”

“Aku rasanya tak semangat lagi, bang. Bahkan tak semangat lagi untuk hidup.”

“Kalau ada pacar setidaknya ada penyemangat. Perempuan itu bagaikan ‘imun’ bagi laki-laki.”

“Entahlah, bang.”

“Perempuan diciptakan didunia untuk menemani laki-laki. Nabi adam saja, walau udah di syurga, ia tetap membutuhkan wanita pendampingnya. Makanya Allah menciptakan siti Hawa untuk menemaninya di syurga.”

“Iya, bang. Aku tahu. Tapi rasanya aku udah trauma jatuh cinta.”

“Trauma…” Bang Sutris menyeringai. “Berat sekali sepertinya hidupmu.” Bang Sutris menghembuskan asap rokoknya.

“Itulah yang aku rasakan, bang.”

“Makanya di share, masalah itu dibagi, setidaknya walau tak dapat menyelesaikan masalah. Dengan berbagi, setidaknya masalahmu terasa sedikit lebih ringan.”

“Masalah koq dibagi-bagi. Duit yang dibagi-bagi, bang. Belum tentu juga orang mau berbagi masalahku bang.

“Itu lah salahnya kau. Begini.” Bang sutris merapikan duduknya lalu duduk menghadapku. “Dulu abang saat jadi bujangan juga banyak masalah….” Bang sutris menceritakan masalalunya yang pelik. Perjuangannya mendapatkan istrinya. Hingga ia berbagi cerita setelah pernikahannya.

Aku tertegun mendenga ceritanya. Entahlah, apa ia berbohong tentang kehidupannya, atau ia ingin menyampaikan bahwa, sesulit sulitnya kita, masih ada orang yang jauh lebih sulit kehidupannya dibanding kita.

Aku manggut-manggut menyimak ceritanya. Karena ia telah terbuka tentang dirinya, aku mulai terbuka kepadanya tentang kehidupan pribadiku.

“Aku dulu pernah ada niatan buat nikah bang. Tapi hancur sebelum terjadi.”

“Kenapa.”

“Ga tau bang. Masalah datang silih berganti, bertubi-tubi. Aku ga tau apa aku sanggup melewati semua ini atau tidak, bang.”

“Allah menguji hamba-Nya, sesuai kadar kesanggupannya. Jika Allah mengujimu dengan cobaan seperti itu, berarti Allah tahu, kau sanggup menghadapinya. Tetap optimis bro. Allah menurunkan masalah, pasti Allah juga menurunkan solusinya.”

“Iya, Bang. Tapi hingga detik ini aku belum menemukan solusi itu.”

“Apa nian masalah kau. Coba berbagi, siapa tahu abang bisa bantu masalah kau.”

Aku tak percaya. Orang yang baru ku kenal hari itu. Sudah begitu baik padaku. Mau berbagi cerita tentang kehidupannya, mau pula mendengarkan ceritaku. Bahkan menawarkan bantuan.

Sekumpulan para pekerja proyek telah kembali, usai makan siang. Itu artinya, waktu istirahat telah berakhir. Aku melelirik jam dinding di dalam pos satpam itu. Pukul 1 siang kurang 3 menit.

Aku melihat Budi berada diantara para pekerja proyek itu. Box makan siang Budi masih utuh. Sepertinya ia sudah makan siang di luar lokasi proyek.

“Udah jam 1, bang. Aku permisi dulu.” kataku kepada bang Sutris, pamit untuk kembali bekerja.

***

Operator Genset — Part 2

Satu minggu sudah aku ‘menikmati peran’ku sebagai operator genset. Satu minggu pula aku berkutit dengan mesin. Bergumul dengan oli, solar dan lumpur.

Sepertinya aku sudah mulai terbiasa dengan itu. Hal yang tak biasa aku lakukan.

Mataku tertuju kepada sekelompok orang mengenakan pakaian rapi serta mengenakan helm pelindung khas lokasi proyek.

Aku menjelajahi memori otakku. Dulu, aku pernah berada pada posisi mereka. Saat kuliah dulu aku pernah menjadi konsultan pelaksana. Sebagai mahasiswa teknik sipil, teman kuliahku mengajakku untuk bekerja sebagai konsultan.

Seandainya sesuatu tidak terjadi padaku, pastilah aku kini masih menjadi seorang konsultan pelaksana atau pengusaha. Ah, sudahlah.

Tapi itu dulu.

Kini aku hanya bisa memandang mesin genset besar berwana biru. dengan suara gaduh . Suaranya memekakan telinga.

Aku bagai seorang anak kecil saja yang sedang duduk rapi didepan televisi, Memandangi mesin genset berwarna biru, dengan suara menderu. Tapi mesin genset bukanlah televisi yang menampilkan film-film seru.

Masalalu memang tak bisa dirubah. tak guna aku mengingat masa kejayaanku. itu hanya menyesakkan dadaku.

Ada baiknya aku mengukir masa depanku.

Aku memandang lamat-lamat sosok seorang lelaki di ujung sana. Dengan mengenakan rompi hijau terang kekuningan. Rompi yang bercahaya dikala gelap. Ya, dia adalah Bang Sutrisno. Hampir seminggu ini aku tak melihatnya.

Bang Sutris berjalan menghampiriku.

“Mengapa kau melamun memandangi genset itu. Genset itu tidak akan hilang. Barang sebesar itu tidak ada yang mau mencurinya.” Tegur bang Sutris yang sedari tadi mengamatiku.

“Lantas aku bisa apa, bang. Tak ada seorangpun yang bisa aku ajak ngobrol  disini.”

“Budi mana?”

“Di atas, bang.”

Bang sutris melihat passenger lift. Mesin pengangkut barang itu sedang berada di atas, di lantai 7.

“Dari pada suntuk duduk sendiri disini, mending kau main ke pos.”

“Abang kemana aja. Kemarin² aku main kesana, tapi aku tak melihat abang.”

“Abang masuk malam.”

“Oh, pantesan.”

“Ayolah main ke pos 1. Lagian ngapain disini. Budi lagi di atas. Orang-orang juga pada sibuk kerja.” Ajak bang Sutris.

Sebagai operator genset. Kerjaannya memang begini. Pagi-pagi menghidupkan genset. Siang, jam istirahat matikan. Setelah istirahat hidupkan kembali mesin itu, saat jam pulang, matikan kembali. Sesekali memeriksa bahan bakar solar.

Jika bahan bakar solar pada genset hampir mau habis. Segera isi, agar tak masuk angin pada tank solarnya. Jika masuk angin, susahlah abang mengidupkanya.” itulah pesan Budi yang mengajariku tentang mesin genset itu.

Untung ada kau Budi, jika tidak sengsaralah aku disini.”

Lha, emangya abang tak diajarkan disana.”

Aku menggeleng.

Nekat kali bos mu itu.

Kantor genset memang tak pernah mengajariku lebih detail tentang mesin itu. Hari pertama aku masuk kerja, aku memang langsung dibawa ke lokasi proyek. Tanpa pembekalan yang maksimal, aku langsung turun kelokasi. Tapi untungnya tak terjadi apa2 pada mesin itu.

Jika saja mesin itu bertingkah. Mati lah anak muda.

Kantor hanya memberiku kertas berisi taks yang harus diisi, untuk laporan. Seberapa lama mesin hidup, segitu pula lah waktu yang harus dibayar penyewa perjamnya.

Cuma begitu saja pekerjaanku. Bila jam kerja begini, budi sibuk mengantar para pekerja yang sedang membawa barang. Turun – naik.

***

Aku mengikuti bang Sutris menuju pos 1.
Sesampainya di pos 1 dia menyuruhku duduk.

“Duduklah, bawa santai dulu. Ini rokok.” katanya menawarkan. Bang Sutris mematik api, mengisap lalu mengepul lah asap rokok itu.

“Bagaimana kabarmu.”

“Baik, bang.”

“Bagai mana kabar budak tu(baca : pacarmu;your someone;kekasihmu;gadis itu.)”

“Dia baik bang.”

“Kabar ibunya baik.”

“Aku tak tahu, bang. Aku baru satu kali melihat ibunya.”

“Ibumu maksud ku! Orang salah sebut juga.”

“Oh, beliau baik bang. Namanya juga orang tua, dia sering sakit.”

“Tapi sekarang sehat ‘kan?”

“Iya Alhamdulillah, bang.”

“Bagaimana kisahmu.”

“Kisah apa bang.”

“Kisahmu lah. Kemarin kisahmu masih menggantung, abang penasaran.”

Aku menyeringai. “Kisah kegagalan cinta, bang? Ah buat apa di ingat2 bikin sakit hati aja.”

“Emangnya kau saja mengalami kisah cinta yang pelik. Didunia ini banyak orang yang mengalami kegagalan cinta. Jadi jangan merasa sedih.”

“Kalo kegagalan cinta kisah anak remaja sih biasa bang. Ini gagal menikah. Sakit rasanya, Bang.”

“Memang. Tapi itu jadi pembelajaran buat kita. Saat kita hendak memulai hubungan yang serius dengan pasangan kita. Ada saja cobaan yang menghadang. Tujuannya, kalo kita bisa menghadapi masalah itu. tentu kita tidak akan khawatir lagi dengan masalah kedepannya. Asal kau tau saja, li. Kehidupan setelah menikah itu jauh lebih sulit. Masalah sepele saja bisa jadi masalah besar. Kalo tidak kuat, bisa hancur rumah tangga. Makanya banyak terjadi perceraian, karena mereka tak mampu menghadapi cobaan yang ada.”

“Entahlah bang. Ceritamu terlalu jauh, sulit aku membayanginya. Sementara aku saja belum menikah, abang cerita kehidupan setelah menikah. Tambah pusing aku, bang.”

“Iya tau. Setidaknya jadi gambaran buat kau. Sebenarnya membina pernikahan itu gampang-gampang susah.”

Aku meraih rokok yang ditawari bang Sutris tadi. Mungkin bisa mengurangi sedikit bebanku. Apalagi bang Sutris ini mengajakku berpikir keras.

“Aku minta satu ya, bang.”

“Ambilah, bawa santai aja dulu. Masalah jangan dipikirin, tapi dihadapin.”

“Kadang aku merasa tak kuat menghadapi masalah ku, bang.” Aku menghembuskan asap rokok.

Aku menarik nafas panjang.

“Kenapa lagi?”

“Pembicaraan kita ini terlalu berat, bang. Bisa ngobrol yang ringan2 aja ngga bang. Pecah kepalaku nanti.”

“Kau itu lelaki, kau masih muda. Biasakan dirimu dengan masalah-masalah yang berat-berat. Kelak kau akan mengalami masalah yang lebih berat, dan kau tidak canggung. Karena kau udah terbiasa melewatinya.”

“Masalah segini aja aku ga sanggup, bang. Apalagi abang bilang masalah yang lebih berat.” Aku mengembuskan asap rokok.

“Apa nian masalah kau ini. Dari kemarin kau bilang masalah, masalah, masalah. Tapi kau tak pernah cerita apa masalahmu.”

“Entahlah, bang “

“Kau harus semangat menghadapi hari esok. Lelaki kok loyo.” Bang sutris menyeringai, lalu menghembuskan asap rokonya.

“Kalau semangat untuk meraih kesuksesan, bang. Mungkin aku bisa. Tapi ini, bangkit dari keterpurukan. Tidak gampang. Tidak semudah membalikkan telapak tangan.”

“Iya, abang tahu. Karena abang udah pernah mengalami hal itu…”

Aku kembali mendengarkan ceritanya. Bagaimana perjuangan hidupnya. Katanya, dulu ia pernah sukses. Sempat punya mobil mewah. sehingga sesuatu terjadi padanya. Dan ia tetap tegar.

“… Jadilah seperti tukang parkir, walau banyak mobil dan motor dititipkan padanya. Sehingga pemiliknya mengambil motor atau mobil tersebut, ia tak merasa cemas dan khawatir. Karena ia tahu semua itu hanya titipan. Kita harus seperti itu juga. Apa yang Allah berikan kepada kita, itu hanya titipan. Sebagai seorang yang diberikan titipan. Harusnya kita tak khawatir jika Allah mengambilnya.”

Aku mulai terbuka dengan bang Sutris ini. Aku kembali mengingat apa yang terjadi beberapa bulan lalu. Menceritakan kembali apa yang terjadi padaku.

“Aku dulu pernah punya usaha, bang. Bahkan sempat memiliki karyawan. Dari hasil usaha itulah, bang. Aku bisa kuliah melanjutkan cita-citaku.”

Bang Sutris manggut-manggut mendengar ceritaku. “Terus.”

“Ada sesuatu yang aneh terjadi. Sesuatu yang tak masuk diakal, sesuatu yang sulit diterima oleh logika. Secara ghaib, uang dikantorku hilang. Raib begitu saja. Kala itu aku masih tetap semangat mempertahankan usahaku. Aku bermaksud menambah modal dengan meminjam uang kepada bank untuk melanjutkan usahaku. Tapi aku rasa aku salah perhitungan. Sudah tau ada kehilangan, aku malah nekad menambah modal. Alhasil aku tak dapat mempertahankan usahaku. Hingga kini aku harus tetap membayar hutang bank setiap bulan. Kuliah aku ambil cuti. Semua karyawan aku rumahkan. Yang paling menyedihkan, bang. Seseorang yang aku niatkan untuk menikah dengannya. Malah pergi meninggalkan aku tanpa alasan yang jelas. Padahal aku udah ada niat untuk menikah, tapi bagaimana bisa. Jangankan menjamin kehidupan orang lain. Menjamin hidupku aja susah.”

“Kau sudah cerita kepada mantanmu itu? siapa namanya?”

“Mawar, bang.” Ya, panggil saja namanya mawar.

“Udah bang.”

“Bagaimana respon Mawar.”

“Setiap kali aku cerita kepadanya, ia malah menimpali dengan cerita-ceritanya. Sepertinya ia tak peduli tentang apa yang terjadi padaku. Dia terus memaksa untuk kita melanjutkan hubungan lebih serius.”

“Dia seperti itu?”

“Iya, bang. Alasannya, saat itu adiknya akan menikah. Sementara dia menganggap aku tak serius menjalani hubungan dengannya.”

Bang Sutris menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Padahal dulu aku juga pernah bilang, bang. Kalau kakakku yang perempuan masih ada yang belum menikah. Aku meminta ia bersabar. Tapi dia anggap aku hanya alibi saja untuk membela diri.”

“Sekarang apa kakakmu sudah menikah?”

“Udah bang. Dulu, Ibu ku juga menyuruhku untuk menunda pernikahanku. Karena alasan kakakku perempuan, kesian dia kalau dilangkahi adiknya yang laki-laki.”

Bang Sutris membuang rokoknya yang sudah menjadi puntung. Lalu melanjutkan dengan rokok yang baru.

“Saat aku bilang kepada mawar kalau masih ada kakak perempuanku yang belum menikah. Tapi ia malah menimpali begini, bang. Aku juga perempuan, umurku terus bertambah, kamu sih enak laki-laki. Lelaki tak masalah jika usia lanjut menikah. lagi pula kalau terus menunggu kakakmu yang belum menikah, kapan kita nya menikah. Ibarat mobil, mana muatan yang penuh, itu yang lebih dulu berangkat. Begitu katanya, bang.”

Aku membuang puntung rokok yang mulai habis terhisap.

“Abang salut sama kau, li.”

Aku menyeringai. “Salut apa, bang. Aku saja malu dengan kehidupanku. Abang malah salut. Membual abang ini.”

“Iya bener. Abang salut sama kau. Kau rela mengorbankan kebahagiaanmu. Demi kebahagiaan kakakmu dan demi menuruti permintaan Ibumu. Jarang-jarang ada orang yang seperti itu, kebanyakan orang egois. Demi kebahagiaanya, rela mengorbankan kebahgiaan orang lain.”

Bang Sutris mengeluarkan kopi sachet dari lemari lalu menyeduhnya.

“Banyak juga yang abang temui, seorang anak rela menjual harta warisan orang tuanya untuk mempersunting gadis pujaanya. Tapi kau tidak.”

“Ah, itu kebetulan saja mungkin, bang.”

“Tapi. Kau harus bersyukur, li.”

“Bersukur apa, bang? Apa yang harus aku syukuri.” aku tak mengerti.

“Coba kau bayangkan. Jika kau menikah dengan Mawar. Setelah menikah kau bangkrut. Dan pasti dia pergi meninggalkan kau.”

Aku manggut-manggut. Aku tak sanggup membayangkannya.

Bang Sutris benar. Aku baru tahu, mungkin ini hikmah yang aku pertanyakan sejak awal.

Ya Allah, maafkan hamba-Mu ini. Hamba yang tak pandai bersyukur atas nikmat dan cobaan yang Engkau berikan.

“Allah tahu, dia tak baik untukmu. Dan Allah telah mempersiapkan calon yang lebih baik untukmu.”

Aku tersenyum tipis.

“Kau bilang kau sudah punya calon. Siapa namanya.”

“Melati, bang.” Ya, anggap saja kali ini namanya Melati.

Mawar, Melati semuanya indah. Kalau tidak percaya. Lihat kebunku, penuh dengan bunga… (Kayak lirik lagu).

“Bang, matikan gensetmu itu. Orang udah pada turun.” Tiba-tiba saja Budi datang.

Aku melihat jam dinding. Pukul 12.00. Jam istirahat.

“Aku pamit dulu bang, untuk matikan genset.”

Aku pamit kepada bang Sutrisno.

***

Gimana nih. Lanjut ga ceritanya. Kalau lanjut, Klik komentar
Thanks for read.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: